Tak habis cerita tentang Merbabu


Berbicara mengenai salah satu gunung tercantik di Jawa Tengah memang tidak pernah membuat kita kehabisan kata, selalu ada saja sisi yang bisa kita nilai keindahannya.

Ya, kali ini aku akan sedikit menceritakan bagaimana aku mengenal Merbabu. Pengalaman pertamaku mengenal dunia pendakian dengan cerita yang tidak mungkin terlupakan. Berawal dari ceritaku pada seseorang tentang keinginanku lebih mengenal tentang alam,mengenali bagaimana rasanya berada pada dunia pendakian, menikmati ketinggian yang mana bisa membuat kita terasa lebih dekat denganNya. Mas Ca, seperti itulah aku memanggil seseorang yang selalu siap mendengarkan apapun yang aku ceritakan, yang mungkin kadang dia terlalu bosan dengan cerita yang selalu aku ulang-ulang. Hehe..

Setelah beberapa kali saling bertukar cerita, akhirnya kami memutuskan untuk mencoba sebuah perjalanan, saat itu aku meminta saran, aku harus mulai dari gunung mana dulu, yang sekiranya memiliki trek cukup landai untuk pemula seperti aku,selain sebagai pemanasan awal, ya lumayan lah bisa menikmati perjalanan perdana ini dengan santai (harapannya begitu). Tapi, pikiranku tiba-tiba tertuju pada MERBABU, hamparan sabana yang begitu hijau rupanya membuatku tergoda untuk menjamahnya, jujur saja saat itu aku tidak berpikir mampu atau tidak untuk sampai diketinggian ± 2770 mdpl, kawasan luas dengan vegetasi rerumputan hijau berbukit-bukit terlalu membuatku bersemangat untuk segera menyapa teletubies yang tinggal disana *lhoo :D, tanpa pertimbangan yang panjang, keinginanku itu segera terealisasi.

Sabtu pagi tepatnya bulan April 2015,aku memulai perjalanan dari Sukoharjo dengan anggota 9 orang. Aku dan tim bersepakat untuk bertemu di salah satu SMA Sukoharjo, yang menurut kami itu adalah titik tengah rumah kami yang saling berbeda arah. Aku bersama 4 orang temanku yang terdiri dari Mas Ca, Hanu, Frian, dan Anam telah sampai terlebih dahulu di SMA, dan tak perlu menunggu lama keempat orang lainnya segera tiba,mereka adalah Choiri,Nay,Wulan dan Yuli. Setelah semua kumpul, dan dirasa tidak ada yang kurang lagi dari segala persiapannya, kami memutuskan segera berangkat menuju Gunung Merbabu. Karena menurut kebanyakan informasi yang aku dapat jalur tersantainya merbabu adalah Selo,maka aku segera menuju kota yang terkenal julukannya New Zealand van Java. Tidak terlalu cepat dan juga tidak lambat team kami mengendarai motor, santai saja sambil menikmati segala hal yang ditawarkan oleh setiap inci sudut kota.

Tak terasa hampir 2 jam kami menempuh perjalanan, kami tiba pada suatu kawasan yang mana disetiap sisi terhampar pemandangan yang begitu memanjakan mata, itu berarti menandakan kita telah memasuki kawasan wisata Selo. Sebuah desa yang masih begitu khas dengan ketradisionalannya, mulai dari pemukimanan yang masih terlihat dengan ciri paguyuban, sampai jalan-jalan desa yang masih sederhana,entah sampai berapa kali harus melewati tanjakan yang bisa dibilang cukup ekstrim, aku yang saat itu dibonceng mendadak senam jantung. Nggak kebayang rasanya kalau mendadak motor yang aku naiki tidak akan kuat. Dan akhirnya benar, setelah melewati gapura selamat datang, aku terpaksa harus jalan kaki sampai basecamp,karena motornya sudah menyerah duluan untuk tetap jalan keatas dengan menanggung beban 2 orang ditambah ransel yang kami bawa.

Ketika kami tiba dibasecamp, awalnya tidak ada kekhawatiran akan cuaca saat itu, karena memang waktu kami tiba, kebetulan cuaca cerah, matahari pun sedang terlihat begitu antusias mengiringi setiap langkah kami. Setelah melakukan registrasi, kami memutuskan untuk tidak langsung naik,sholat dhuhur terlebih dahulu dan  menunggu rombongan cloter 2 yang berasal dari Solo mengantarkan beberapa orang dari Jakarta. Sambil menanti waktu dhuhur tiba, kami sibuk sendiri-sendiri, ada yang menata kembali barang bawaan, ada yang memesan makanan dan ada yang sibuk ambil foto, meski begitu kami tetap melewatkannya dengan canda tawa yang begitu renyah. Setelah semua selesai, pas sekali terdengar adzan yang berkumandang, segera kami bergantian mengambil wudhu dan melakukan sholat berjamaah. Usai sholat, rupanya diluar sedang gerimis. Langit yang tadinya begitu cerah, tidak disangka berganti menjadi pekat,kabut turun menyelimuti pepohonan yang semula nampak hijau, tidak ada lagi pemandangan yang bisa dilihat dengan jarak pandang jauh, semua buram. Tidak lama kemudian rombongan yang kami tunggu tiba. Rombongan itu terdiri dari Mas Yogga, Mas Nugroho, dan kedua orang temannya yang berasal dari Jakarta. Sebenarnya saat itu adalah awal mula aku berkenalan dengan mereka.

Setelah dirasa hujan diluar mulai reda,aku dan rombongan segera menyiapkan diri untuk segera naik, agar tidak terlalu larut tiba ditempat camp. Sebelum pendakian dimulai kami berkumpul, berdoa bersama agar semua selamat dan bisa kembali dengan keadaan baik-baik sesuai yang diharapkan. Berdoa selesai, rombongan memulai perjalanan. yang aku ingat saat itu Mas Ca berada pada barisan paling depan disusul anggota cewek dan rombongan Mas Yogga berada dibelakang,setelah jauh berjalan, nafas yang mulai susah diatur membuat kami berjalan tidak beraturan, barisan yang tadinya masih jelas urutannya, mulai acak. Mas Nugroho dan kedua temannya berada didepan mendahului kami,pelan tapi pasti kami tetap melanjutkan perjalanan, hingga akhirnya kami tiba di lokasi tepatnya dibawah pos 1 yang saat itu tiba-tiba diguyur hujan, mau tidak mau kami memutuskan untuk minggir terlebih dahulu memakai mantel. Semua siap, perjalanan bisa dilanjut, setelah dicek anggota team, ternyata Mas nugroho, kedua temannya, dan Frian tidak ada dirombongan kami, rupanya saat kami berhenti mereka tidak tahu karena terjeda oleh rombongan lain, kami berusaha mengejar langkah mereka, namun tak membuahkan hasil, mereka sudah terlalu jauh. Pikir kami yasudahlah tidak perlu buru-buru dikejar, toh nanti pasti ketemu juga ditempat camp. Cerita berkata lain, karena kebetulan saat itu musim libur panjang dan hari sabtu pendakian mendadak sangat ramai, untuk melalui jalan pun harus ngantri, kami tiba disebuah jalan yang trek nya cukup terjal, Mas Ca mengarahkan kami melewati jalur lain yang dirasa lebih landai,hujan turun tak kunjung reda, treknya semakin berlumpur hingga membuat kami kesusahan, tapi disinilah kita temukan arti banyak teman, kita bergotong royong membantu satu sama lain. Langkah demi langkah kita lalui, tanpa terasa pos 3 yang sebenarnya masih menguras tenaga terlihat dekat didepan mata, sejenak kita berhenti, mengumpulkan lagi semangat, karena trek yang akan kita lalui menuju batu tulis akan lebih terjal pastinya, belum lama beristirahat angin mendadak bertiup dengan kencang, hujan turun semakin deras, sementara pohon-pohon disekitar sudah jarang, hanya ada satu atau dua saja ,dan itupun hanya kecil, jujur perasaanku sudah entah kemana,tangan, kaki semua mulai beku, membuat langkahku semakin susah,menahan terpaan angin membuat tubuhku tak lagi seimbang, dalam hati hanya berdoa agar semua tidak ada apa-apa. Sepontan aku kaget, mas Ca yang tadi berjalan di dekatku, mendadak terjatuh, rupanya dia merasakan kakinya mulai kram tidak kuat untuk berjalan lagi. Tanpa babibu mas Yogga langsung menghampiri dan membantu mengurangi rasa kramnya, tapi tetap saja kita tidak mungkin jika dipaksa melanjutkan sampai pos 3, akhirnya mas Yogga mengambil tindakan membuat shelter sederhana menggunakan flysheet dibawah pohon dibantu oleh teman-teman cowok lainnya, setelah semua siap kita yang saat itu tinggal 9 orang segera berlindung di shelter. Terlalu lama berdiam dishelter yang minim untuk 9 orang, membuat kaki tiba-tiba terasa tidak ada tenaganya,mencoba berdiri saja rasanya semakin entah. Langit semakin gelap, dan kita tidak mungkin terus-terusan berdiam dalam shelter itu, setidaknya kita harus mendirikan tenda,dan mas Ca baru ingat bahwa tenda yang ia bawa tanpa frame, karena framenya terbawa oleh frian yang sampai saat itu belum kita temui ada dimana, akhirnya kita hanya mendirikan 1 tenda yang telah dibawa oleh mas Yogga ditambah flysheet yang sengaja dipasang dibagian depan, setelah semua selesai anggota cewek berada ditenda, sedang cowok hanya berlindung dibawah flysheet. Seharian diguyur hujan membuat semua yang kita gunakan basah kuyup, dan terasa sangat dingin, mau tidak mau kita harus mengganti dengan pakaian kering, usai sholat kita makan, dan menyeduh minuman untuk menghangatkan badan, tapi tiba-tiba dadaku mendadak panas, untuk menghirup nafas pun seperti ada sesuatu yang menghalangi, berat sekali rasanya. Perut yang saat itu tengah kosong, tidak membuatku terfikirkan untuk makan, aku hanya ingin menangis, dari yang awalnya aku berada dipinggir, aku segera berpindah tempat ketengah, menghindari angin. Kurang lebih 13 jam kita bertahan disitu karena badai tak kunjung reda,sampai keesokan harinya, aku yang sangat tidak tahan untuk buang air kecil sekitar jam 5.30 masih dilarang untuk keluar dari tenda, sampai akhirnya aku menunggu sampai jam 6, keadaan sudah tidak bisa ditahan, aku memaksa keluar dari tenda dan memang diluar masih badai, meskipun tidak separah malam hari. Sekitar jam 9 matahari mulai menampakkan dirinya, teriknya sudah mulai kerasa, kami bersepakat untuk packing dan turun saja, tidak memaksakan untuk terus lanjut keatas, lain waktu saja kami memulai mencoba lagi. Sambil menunggu perlengkapan kering diguyur hujan semalaman, kami bersantai-santai diatas rumput hijau yang begitu menggemaskan, tak lupa mengambil beberapa gambar.

Perjalanan turun sangat lancar, tidak memakan waktu seperti saat nanjak kemarin, kami memutuskan istirahat dibawah pos 1, saat berhenti, memang tidak sedikit orang yang beralalu lalang didepan kami, baik itu yang baru mulai pendakian atau bahkan sudah turun, tidak kami sangka dari salah satu orang yang turun itu ternyata frian ada diantaranya,bahkan dia mengakui kalau dia berhasil camp di batu tulis. Hanya tinggal mas Nugroho dan kedua temannya yang masih belum kita temui, kita memutuskan menunggu sambil berjalan pelan- pelan, hingga kita hampir sampai dipintu gerbang pendakian belum juga bertemu. Menunggu kita ganti menjadi di basecamp, sambil beristirahat. Tak terasa waktu sudah menunjukkan saatnya sholat ashar, usai sholat aku dan teman lain yang berasal dari Sukoharjo memutuskan untuk pulang terlebih dahulu, sementara mas Yogga tetap tinggal menunggu mas Nugroho dan kedua orang temannya. Alhamdulillah, meskipun kita semua pulang di jam yang berbeda, akhirnya tetap bisa sampai dirumah dengan keadaan baik semuanya.
Ya, itulah awal mula aku mengenal merbabu, pengalaman pertama yang sampai saat ini semakin menjadi candu,seperti mencintaimu, meskipun berulang kali aku putuskan bertemu tetap saja tidak pernah bisa memangkas tumbuhnya rindu *lohh




Komentar